Pages

Seorang gadis kecil dan ayahnya

Seorang gadis kecil dan ayahnya sedang melewati sebuah jembatan di tengah arus sungai yang deras. Sang ayah cukup takut dan berkata kepada gadis kecilnya :

"Sayang, genggam erat tangan ayah agar kau tidak terpeleset ke dalam sungai"

Gadis tersebut berkata :

"Tidak, ayah. Kau yang harus menggenggam tanganku"

Sang ayah mulai bingung :

"Apa bedanya?"

Gadis tersebut menjawab :

"Sangat berbeda.
Jika aku menggenggam tanganmu dan sesuatu terjadi padaku, mungkin aku akan melepaskan tangamu.
Tapi jika kau yang menggenggam tanganku, aku yakin apapun yang terjadi, kau tidak akan melepaskannya"

Balada oseng buncis

18/11/11

Assalamualaikum.

Pulang sekolah, aku laper banget. Mama sama eyang lagi tidur siang. Waktu ke dapur, ngeliat oseng buncis semangkok, makanan favorit <3
Waktu kusamperin tuh oseng, obi muncul dari belakang.

"Jangan di colek-colek lho, mbastrid. Itu kata mama, itu buat arisan nanti sore."

Aku lesu. Itu makanan favoritku. Aku pengen ngincip dikiiit aja.
Obi masuk ke kamar lagi. Tinggal aku dan si ganteng oseng buncis berdua di dapur. Kuliat kiri kanan nggak ada siapa-siapa. Beliau-beliau pada belum bangun.
Aku cuma pengen ngincip dikiiit aja koook...

Jadi aku ngambil sesendok aja itu oseng buncis. Dan karena enak, aku ngincip satu sendok lagi.
Tanpa sadar, udah tinggal separonya aja itu oseng dari sebelumnya. Aku langsung masuk kamar, cari kerjaan biar nggak dimarahin.

Mama sama eyang akhirnya bangun dan nyiapin apa-apa buat nanti sore ke dapur. Aku lalu lalang di sekitar dapur, mau pura-pura ngebantuin.

Eyang nyamperin oseng buncisnya, terus diangkat. Dicium-cium.

"Mbak Endang, ini osengnya kayaknya agak basi."

"Oh, masa?" mama ngambil oseng buncis dari tangan eyang, terus dicium.

"Iya, bu. Udah basi. Saya buang aja, yah."

Aku :

kenapa baru bilang TT___TT

Sesuatu di pagi hari

16/11/11

Assalamualaikum.

Pagi ini aku nggak sekolah. Tadi pagi perutku sakit banget. Bentar-bentar ke kamar mandi. Udah nggak kehitung deh dari jam setengah 3 pagi tadi udah berapa lap bolak balik. Sebenernya kalau nggak turun hari ini juga asik, sih. Pelajaran hari ini biologi, fisika, TIK, PKn.

Fisika, ada atau nggak ada Pak Sugi di kelas sama aja. Bapaknya palingan nyeritain masa lalunya yang indah dulu. Bertani, mengelola sawah dengan rajin dan ulet. Nggak diabsen pula. Waktu ngebahas soal, nyatet di papan tulis juga kadang rancu. Bingung kita nyatetnya. Kadang bagian pembahasan soal yang bapaknya omongin, nggak ditulis, malah soal-soal review SD, SMP, atau perkuliahan yang nyantol di papan tulis. Sulit dimengerti bapaknya ini...

TIK, Pak Nafiq, janji mau ngecek satu-satu hasil tugas membuat undangan. Sudah berjalan berapa persen dan sejauh mana. Dan aku baru bikin segini :



Eaaa baru itu. Hahaha. Agak malu sebenernya saya. Tapi mau apalah...
Entar palingan tak ganti lagi... hemlalala~

PKn, ya... tau lah ya. Ibunya pun udah lupa kali ya punya murid kita. Ga pernah turun ke kelas. Begitu dateng, tau-tau ngasih ulangan aja.

Biologi, pelajaran pertama. Ini aja yang sekiranya rada bermanfaat dan sayang untuk ditinggalkan pada hari ini.

Maaf, ya... Guru-guruku tersayang... :*

Pagi ini jam 9 aku sama mama mau ke dokter. Sebenernya aku rada kasian sama Mama. Beliau baru pulang nganterin Obi sekolah. Tapi karena si adek ngga jelas yang satu itu lupa bawa prakaryanya ke sekolah, jadi Mama musti ngambil ke sekolah, dan balik lagi buat nganterin ke istiqomah. Yaudah deh sekalian aja bawa aku.

Pas lewat gedung biru, Mamaku mampir sebentar, mau ngambil duit di ATM. Dan pas Mama selesai ngambil, masuk mobil, aku dikasih duit krecekan lumayan banyak sama Mama.

"Trid, kasihkan ke bapak yang lagi duduk di sana"

Aku pertama ogah-ogahan. Perut nyeri begini musti jalan 5 meteran nyamperin kakek-kakek. Dan karena merasa nggak tahu diri sendiri jadinya, disiruh gitu aja nggak mau, jadi akhirnya kusamperin itu kakek-kakek, terus kukasih duit krecekan dua genggam tadi itu ke beliau.

"Alhamdulillah... Makasih, mbak... Makasih..."

Mukanya kayak kaget gitu waktu kukasih. Aku juga kaget, lihat kakeknya kaget. Mungkin kakeknya tadi juga kaget kali, liat aku kaget ngeliat kakeknya kaget.

Ya Allah... kalau beliau benar-benar hambamu yang berbakti, ringankanlah beban-bebannya, Ya Allah...

Pas aku balik ke mobil, aku liatin lagi kakek-kakek tadi. Coba tebak, beliau ngapain?
Tangannya yang masih ada duit kerecekan tadi ditengadahin, mulutnya komat-kamit seperti lagi memanjatkan sesuatu. Terus... uang kerecekan tadi diciumin sama kakek tadi.
Ya Allah... apa tiap hari beliau nggak pernah megang uang segitu, ya? Sementara aku yang tiap hari makan malem kadang-kadang sambil main game, seakan-akan makanan-makanan itu memang udah wajib masuk ke mulutku tiap jam 7 malem. Ya Allah... aku pengen mukul-mukul mukaku karena malu.
Tapi sakit T___T
Maafin hamba yang dodol ini, Ya Allah...
T___T
That still talked about
I keep chasing dreams I'm

That'll be busy this year already?
This location is also unchanged because

So everybody ever be buddies
Days we grew up are days we will treasure
Show everybody show is beginning curtain has risen
Make your own storyline
Dream as if you will live forever
And live as if you'll die today

Dwarf spare no fun
You are talking nonsense
April weather comfort fit
So I end up singing songs now
Dream as if you will live forever
And live as if you'll die today

I was angry I was also often poor and stupid
I thought every day, continuing just such fun
The Tsu care if I grow up
Dekaku dream is going along with it
To their chosen path

We have to carry on
Our lives are going on
There is also unchanged from that place

So everybody ever be buddies
Days we grew up are days we will treasure
Show everybody show is beginning curtain has risen
Make your own storyline
Dream as if you will live forever
And live as if you'll die today

Dwarf spare no fun
You are talking nonsense
April weather comfort fit
So I end up singing songs now
Dream as if you will live forever
And live as if you'll die today

We all, we all
Have unforgettable and precious treasure
It lasts forever

Even though old age has passed when
Are irreplaceable treasures
Not invisible form
Precious memory
The rest much much life.

So everybody ever be buddies
Days we grew up are days we will treasure
Show everybody show is beginning curtain has risen
Make your own storyline
Dream as if you will live forever
And live as if you'll die today

Dwarf spare no fun
You are talking nonsense
April weather comfort fit
So I end up singing songs now
Dream as if you will live forever
And live as if you'll die today


One ok Rock - C.h.a.o.s.m.y.t.h

Kenapa yah?

12/11/11

Assalamualaikum.

Kenapa sih megang tafsir waktu halangan itu boleh?
Yang bikin Al-quran itu nggak boleh tersentuh sama wanita yang sedang menstruasi itu apa? Kan karena wanita itu sedang dalam keadaan "kotor", kan? Karena Al-quran itu suci, jadi hukumnya haram jika menyentuhnya, bagi mereka.

أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إلَّا طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh mushaf melainkan orang yang suci”.

Imam Ahmad mengatakan, “Tidaklah diragukan bahwa Rasulullah SAW telah menuliskan surat tersebut kepada ‘Amr bin Hazm.” Ini pendapat Salman al Farisi, Abdullah bin Umar dan yang lainnya.

Lalu bagaimana dengan tafsir, pang?
Apa dengan adanya tafsiran dalam bahasa Indonesia di dalamnya, Al-quran itu jadi nggak suci lagi, gitu? Gitu kah? Apa suci atau tidaknya Al-quran itu dilihat dari hurufnya yang bahasa arab semua? Kalau dasarnya gitu, semua orang arab itu suci dong, jadinya. Ya nggak gitu, lah. Semua juga bisa mikir demikian. Maaf ya, aku bukannya sok pinter T__T

Yang bikin suci Al-quran itu karena isinya yang datang dari firman Allah SWT yang diturunkan ke Rasulullah SAW, kan? Karena disampaikan kepada rasul yang juga seorang manusia, jadi isinya juga memakai bahasa manusia. Sedangkan manusia memiliki cara penyampaiannya masing-masing. Kalau dengan berubah bahasa aja firman-firman tersebut jadi tidak suci lagi, berarti secara nggak langsung mereka menganggap yang bikin suci itu hanya tulisannya aja, dong? Ah, bingung.

Yaudah, deh. Amannya, wanita yang sedang haid cukup mendengarkan aja deh, alunan suara hamba-hamba Allah lainnya yang sedang mengkaji Al-quran. Toh pahalanya juga sama dengan yang membaca. Cari aman, kawan-kawan...

It's better to be yourself, rather than something you're not

11/11/11

Assalamualaikum.

Mumpung lagi tanggal cantik, aku mau ngepost nih. Akhir-akhir ini jarang banget ngupdate blog. Males banget rasanya ngetik. Padahal dulu rajinnya bukan main. Jaman-jamannya baru bikin. Hahaha... (kok jadi curhat zzz -__-)

Oh iya. Dari kemarin aku mikirin ini, nih. Yang biasanya orang-orang omongin. Tentang... lebih baik menjadi diri sendiri, daripada memiliki banyak teman tapi harus menjadi orang lain. Intinya, nggak usah niru-niru orang lain, deh. Jadi dirimu sendiri aja, apa adanya.

Aku bingung banget sama quote ini.
Asal tahu aja. Aku ini punya kepribadian yang "enggak banget". Aku ini sebenernya kuper banget. Dari SD aku paling nggak bisa yang namanya ngomong sama orang lain. Aku hobi banget diem. Kalau ada orang lain ngomong aku males gabung. Nggak mau tahu keadaan luar. "Diam itu emas", pokoknya itu mottoku banget, deh. Pokoknya amit-amit banget, pendiemnya. Nah, sekali ngomong... nggak asik banget. Garing, ngasal, nggak jelas deh, pokoknya. Aku sampe malu sendiri nginget-nginget aku yang dulu. Coba aja bayangin. Kalau aku masih melihara sifat-sifat yang kayak gitu, aku nggak bakal punya teman satupun sampai sekarang ini. Bukan berarti saat ini temen-temenku bejibun. Seenggaknya alhamdulillah sekarang aku punya teman-teman yang bisa mendengar apa yang aku pengen ngomong.

Intinya apa sih, itu quote?
Apa mengikuti gaya orang lain untuk mendapatkan teman itu salah? Apa membuang sisi buruk itu salah? Merubah diri itu salah? Orang cerewet dengan orang yang pendiam tidak boleh mendapatkan kesenangan yang sama?
Apa intinya, sih? Contohnya gimana?

Aku ngaku, deh. Selama ini aku selalu mengikuti gaya orang lain. Dari dulu sampai sekarang. Aku bisa memiliki teman sejauh ini juga dari hasil meniru gaya orang lain. "Aku" yang sekarang bukan "aku" yang murni. "Aku" yang terkontaminasi, lebih tepatnya. Tanpa contoh yang bisa diikutin, aku nggak akan bisa berubah. Aku nggak akan bisa memiliki kebahagiaan yang kurasain selama ini.
Satu lagi. Aku yang dulu, setelah punya beberapa temen, nggak pernah bisa nahan yang namanya emosi. Ngomong nggak pernah disaring. Semua unek-unek pasti akan tekeluar dalam bentuk kata-kata. Yang ujung-ujung nya kata-kata yang nggak bagus itu juga akan sampai ke telinga orang-orang terdekatku. Entah orang-orang sekitar, atau mungkin media-media (friendster, facebook). Sampai orang-orang yang menyebalkan tersebut mungkin udah nggak punya nama baik lagi, kali (hmmm... mungkin agak lebay) (yah... seenggaknya ada gambaran lah, ya). Dan mungkin sifat-sifat itu masih kebawa sampai sekarang sedikit-sedikit.
Aku bisa ngehilangin semua sifat-sifat jelek itu dari melihat orang-orang sekeliling juga. Ada banyak contoh yang pengen kuikutin. Banyak kebiasaan-kebiasaan yang pengen aku buang. Termasuk yang barusan kusebutin di atas itu. Aku pengen jadi orang yang nggak dibenci.

Aku kadang mikir, jangan-jangan orang yang bikin kata-kata mutiara ini cuma nggak mau gayanya diikutin sama orang lain. Nggak mau yang norak jadi gaul. Maunya dia aja yang gaul. Memang, sih. Kalau gaya kita diikutin sama orang lain memang nyebelin. Tapi... yaudah, lah. Kayak nggak pernah ngikutin gaya orang lain aja. Kamu bukan fashion icon.
(loh kok jadi sewot? -__-) maaf ya.

Apa hidupmu bakal tenang, dengan hidup yang cuma bisa menjadi dirimu sendiri selamanya? Iya kalo dirimu sendiri itu bagus. Lah kalau enggak, gimana? Kalau diri kamu yang asli itu cuma bisa nyusahin orang lain, gimana? Atau mungkin sangking nggak mau nyusahin orang lain, kamu jadi pasif, gitu? Selalu berusaha sendiri? Atau apa deh, contohnya. Bakal tenang nggak? Nyaman nggak hidupmu tanpa belajar dari orang lain?
Hasil belajar dari orang lain itu, ujung-ujungnya dinamakan "meniru" orang lain.
Nggak usah sok berkepribadian bagus, deh. Kamu bukan Rasulullah SAW. Kita masih butuh banyak belajar. Harus banyak meniru orang lain.

(maaf ya, ujung-ujungnya jadi nggak nyantai lagi, deh T___T)

I am baaaaack ~

24/10/11

Assalamualaikum...

Hmbrrr... hmbrrr... hmbrrr... (niup-niup debu di blog dengan kekuatan bibir)
Lama banget sudah nggak ngecek blog. Entah sudah berapa lumut dan ganggang yang sudah menjalar disini sepeninggalanku kemarin.
Zzz -_-

Oke deh. Aku ceritain dari hari H-ku aja, yah.

Sabtu, 15 Oktober 2011

This is my special day.
Ini hari ulang tahunku. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Terimakasih, Ya Allah... Engkau masih mengizinkanku membuka mata di usiaku yang ke 17 ini. Memperbolehkanku melihat orang-orang tersenyum dan menjabat tanganku. Terimakasih, Ya Allah... Jangan pernah bosen ngawasin hambaMu yang masih lalai banget ini ya, Ya Allah... :)

Pagi itu orang-orang rumah mengucapkan selamat ulang tahun ke aku. Yang pertamakali, siapa lagi kalau bukan Mama, terus disusul yang lainnya. Selanjutnya aku nggak berharap banyak untuk hari ini. Aku juga nggak merencanakan makan rame-rame, dan sebagainya.
Sebenernya dulu Mamaku sempet nawarin aku bikin acara ulang tahun di rumah. Tapi sekarang gini deh. Di rumahku itu wanita cuma ada tiga orang. Andaikan saja tiga orang ini menyiapkan seluruh acara, dan ujung-ujungnya pengunjungnya hanya 3 sampai 5 orang, ya mendingan ngupil di kamar seharian. Rumahku disini, rumah masyarakat nan jauh disana. Aku juga pastinya bakal kepikiran gimana cara mereka balik ke rumah masing-masing dengan keadaan sehat wal'afiat.
Bisa kubayangin, serumah bakal pusing-pusing, mual-mual cuma buat mikirin yang beginian.

Aku juga sebenernya nggak kepikiran neraktir temen-temen pagi itu. Aku juga mikir, lah. Sebentar lagi aku mau kuliah. Pengeluaran buat nanti bakal banyak. Aku pengen berusaha nahan... mau ini... mau itu. Aku nggak mau nyusahin ortu lah, sebisaku.

Tapi pagi itu juga waktu bapak ngucapin selamat ke aku, bapak langsung ngasih aku uang buat makan sama temen-temen. Aku bingung harus gimana. Kata Bapak, ini kan sweet 17, jadi harus spesial sama temen-temen. Aku bener-bener beku denger kata Bapak. Makasih, pak :)

Puncaknya di sekolah.
Karena ini hari Sabtu, aku sampai di sekolah dengan seragam pramuka. Aku pengennya biasa-biasa aja seperti dari tahun ke tahun. Ulangtahun, diucapin selamat ya sukur, enggak ya nggak apa-apa. Soalnya di tanggal 15 Oktober ada 3 orang anak angkatanku yang ulangtahun. Jadi aku takutnya kalau salah satu temen ada yang ngejreng dikit ngucapin selamat, malah malu sendiri.
Sudah nahan-nahan dari pagi, eh... sekalinya.
Sebelum pelajaran pertama yang seharusnya diambil sama Pak Ompu.  Ingat, Pak Ompu. Si Diva minta temenin aku ke WC. Katanya mau beol. Aku lagi mbaca Al-Quran itu padahal. Ya udah, kutemenin aja. Pak Ompu juga belom dateng.
Nah di WC itu si Diva sumpah lama buanget. Entah ketiduran atau cuma pingsan di dalam. Aku sampe merinding sendiri nungguin dia di depan pintu keluarnya WC. Ngebayangin ekspresi Pak Ompu gimana kalau aku sama Diva datang telat nanti.
Nggak lama di WC aku ketemu Sasa izati sama temennya. Dia ngucapin selamat ultah juga. Terus katanya, "Trid, coba kamu liat gambar di samping lab Kimia, deh. Ngeri banget, Trid," sambil cekikikan.
Aku ndengerinnya cuma lho lhak lho lhok aja. Lah aku nggak ngerti apa-apa.
Nggak lama Diva gendut keluar dari WC. Dia minta maaf keluarnya lama. Padahal dulu dia pernah bilang nggak bakal boker di sekolah. Kalaupun sakit perut, dia bilang mendingan pulang, boker di rumah. Ogah banget di WC sekolah. Aku nginget itu ya dalam hati cuma ber husnudzan aja, "Oh... mungkin dia sudah nggak tahan."
Sumpah aku nggak ngebayangin kalau nanti akhirnya bakal jadi begitu. Soalnya aku juga belom deket-deket amet sama anak-anak kelas.
Akhirnya kita nyampe kelas dan di dinding luarnya ada 3 kertas HVS di tempet, tulisannya:
"HAPPY" "SWEET 17" "ASTRID"
dan di dinding depan kelas dipampang potoku yang demikian ini:


Di print satu kertas HVS. Astaghfirullah haladziim... Dosa apa aku selama ini... T_T
Mau lihat poto aslinya sebelum di crop?



TERTAWALAH, INDONESIA . . .
TERTAWALAH . . .

Waktu ngeliat kertas-kertas di depan kelas, hatiku sudah ndak enak. Dan akhirnya aku masuk kelas.
Tahu, nggak? Satu kelas isinya kertas-kertas nista yang isinya wajah-wajah menderitaku semua yang di close up dengan teknik extreme shoot (kalau bingung, ingat-ingat lagi materi ulangan editing). Di papan tulis ada dua lembar. Di samping jendela kiri kelas sekitar tiga apa empat lembar gitu. Di belakang dua lembar. Di kanan dua lembar. Apa salah bunda mengandung -_-

Aku langsung mbatu di tempat. Anak-anak pada nyanyi Selamat Ulang Tahun.
Perasaanku disitu udah campur aduknya bukan main. Terharu, bete, apa deh nggabung semua di ubun-ubun. Anyway, thanks ya buat semuanya... :)
Karena anak-anak sudah izin sama Pak Ompu, jadi beliau cuma ikutan ngolokin. Jantungku sudah mau kempes ngebayangin ekspresinya Pak Ompu bakal gimana. Ternyata malah ngelawak-ngelawak nggak jelas. Hehe... thanks, ya Pak...
Nunung dan Arum nih kayaknya si biang keladi utama. Awas aja nanti ya... tunggu pembalasanku.
Tungguin aja terus sono~

Memang sih... Memorable banget. Tengkyu yaa teman-teman ^^


Senin, 17 Oktober 2011

Ini hari pertama Mid semester selama kelas 3 ini. Sebelumnya si Ria udah ngajakin konsul Biologi sama Mas Nofik, hari ini. Pas pulang sekolah, si Ria nyusul ke kelasku sendirian. si Pamit katanya jalan. Sialan nih si Ria. Katanya "pasti kamu ge-er, trid" -_- awas kamu, ri. Hahaha.
Waktu ku sms si Pamit lagi dimana, dia katanya nyusul habis dari rumah Au. Dan siangnya... beneran, dia dateng sama Nunung bawa kresek "Gramedia" gede. Terus dikasih aku. Karena pas itu masih di PG, aku canggung-canggung juga nerimanya. Dalam hati udah, "Aduh mati aku. Ngomong apa sudah aku ini." Hehehe. Makasih yaa semuaa...

Dan waktu kubuka di rumah, isinya si Shaun Sheep. Dari Pamit, Au, Nunung, sama Dilla.
Thank you yaa :D :D

...

Ya Allah...
Bimbinglah aku...
Mudahkan jalanku...
Tetaplah bersamaku...
Berilah aku kesempatan untuk apa yang akan kulakukan mulai dari sekarang...
Demi mereka... Kumohon... Ya Allah...

Amiiin...

About Happiness



"They say that in this world there are 2 kinds of happiness,
one kind of happiness you only know when the moment has passed
and the other happiness you only feel in the moment.
That happiness you feel in the moment is so precious
that they say that the memories of this kind of happiness can stay
with you and enlighten your life.
Maybe we can turn today into the happiness you feel in the moment
so that we can remember this happiness for the rest of our life."



-Jinguk
Dream High

Slowly but sure




“If you go slowly, you can see a lot more, in more detail,
than the people who go quickly.
If you ask me who would grow more between those two,
I’d say it’s the one who goes slowly and sees a lot.”



–Kang Oh Hyuk Teacher
Dream High

Pencerahan dari Pak Adi

20/09/11

Assalamualaykum.

Tadi pagi Pak Adi, guru matematikaku yang tinggalnya (ternyata) satu perumahan denganku, memberikan ceramah singkat. Beliau selalu datang pagi. Jadi sebelum pembacaan doa dimulai, Pak Adi pasti selalu sudah berada di kelas. Nggak kok, nggak juga. Pernah juga telat, tapi jarang.
Pagi ini beliau bercerita dan memberi nasihat di kelas kami. Tentang bagaimana kami harus menjalani kehidupan kami nantinya di dalam masyarakat. Sampai waktu pembacaan Al-Kitab juga habis karena ceramahnya.

Pak Adi menjelaskan bagaimana kami harus mengembangkan potensi hidup kami. Dimana di potensi hidup kita itu ada yang namanya pengembangan Attitude sama Kognitif.
Nilai kognitif itu memang sangat penting untuk kita kejar. Karena itu yang akan membantu kita untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Dengan nilai kognitif yang tinggi, kita mungkin bisa menjadi apa saja. Akan tetapi di dalam kehidupan yang sebenarnya, nilai tersebut hanya dapat berguna 15% saja dalam praktek di kehidupan kita sehari-hari. Sisanya tergantung kepada attitude yang kita miliki. Setinggi apapun kepintaran yang kita miliki, tapi kita tidak memiliki sikap dan perilaku yang baik, maka semua itu tidak akan bisa terlihat, selamanya. Apalagi kalau kita gagal dalam bersosialisasi.
Karena baru-baru ini kepala sekolah memberi penyuluhan mengenai pergaulan antar siswa lawan jenis. Para guru mungkin sudah mulai resah akan para anak muridnya yang pergaulannya hampir memasuki taraf ekstrim. Kalau di game Zuma, mungkin setara dengan level Sun God. Dengar-dengar banyak poto beredar yang ditangkap oleh beberapa wartawan yang akhirnya diedarkan di koran. Mengenai anak-anak berseragam SMA lawan jenis yang duduk berduaan dan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Entah asal sekolah mereka darimana. Mungkin para guru juga stress khawatir kalau anak SMA 1 juga termasuk di dalamnya. InsyaAllah tidak...

Melihat kondisi seperti ini, mereka sudah tidak akan pernah dipandang lagi dari segi kognitif. Isi dari kepala mereka tidak akan pernah dihargai, hanya karena attitude yang gagal mereka jaga dengan baik. Kesenangan sementara yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Gagal menjaga attitude dampaknya dapat menjadi lebih parah daripada gagal mengembangkan bakat kognitif.
Mengapa demikian?

Di luar sana, banyak sekali pengusaha-pengusaha sukses, hasil DO (drop out) dari universitas-universitas terkemuka. Tadi sebenarnya Pak Adi menyebutkan nama-nama pemilik franchise yang gagal dalam pelajaran mereka dan di DO dari ITB. Tapi aku lupa, siapa-siapa aja yang tadi disebutkan sama Pak Adi. Pokonya salah satunya Andry Wongso, yang seorang pakar motivator Indonesia. Dan itupun tidak hanya mereka-mereka yang sukses bukan karena sekolah tinggi. Pembuat Facebook, pembuat Microsoft, pegolf yang awalnya latihan secara amatir, Tiger Woods, dan masih banyak lagi. Semuanya rata-rata sukses bukan karena kecerdasan mereka dalam bidang akademik. Akan tetapi karena kepribadian mereka yang menentukan masa depan mereka sendiri. Ketekunan dalam mengembangkan diri atas apa yang telah mereka miliki dan kuasai.

Makanya, Pak Adi pernah bilang kalau tidak ingin sembarangan memberi tambahan les kepada murid-murid yang minta les sama beliau. Karena ia tidak ingin ilmunya dipakai hanya untuk mengejar nilai. Tapi ia ingin memberikan ilmunya kepada para murid agar dapat berguna dalam kehidupan mereka selanjutnya. Di dalam kubur, malaikat tidak akan bertanya hasil dari sin 25 itu sama dengan berapa. Tapi bagaimana sin 25 itu dapat bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan di dunia ini.

Masa lulus SMA itu sama seperti waktu dimana kita keluar dari rumah. Di kehidupan SMA, bisa dibilang masih serupa dengan kehidupan rumah yang selalu di ingatkan makan, tidur, dll. Setiap kali ada yang membolos, sering telat, sering ketiduran di kelas, pasti diberi peringatan tegas. Dan tidak jarang orang tua dipanggil. Diberi pengarahan begini dan begitu agar tidak diulangi. Dan itu semua bukannya for nothing. Itu juga termasuk salah satu pembelajaran untuk kita.
Tapi setelah kita lulus SMA nanti, jangan harap akan ada lagi yang mengingatkan ini dan itu. Tidak akan ada lagi guru yang menegur kalau bermalas-malasan di kelas. Karena (katanya) semua dosen tidak ada yang ingin tahu bagaimana keadaan para mahasiswa mereka. Tidak akan ada lagi yang namanya diberi peringatan karena membolos atau tidak masuk. Karena kalau daftar absensi kita sudah bolong-bolong dan tidak memenuhi angka yang seharusnya, maka kata "DO" akan selalu bergentayang di sekitar anda. Tidak akan ada lagi yang namanya toleransi.
Jadi jangan sampai kalian salah pilih jalan hanya karena attitude kalian yang gagal kalian rawat dengan baik.

Supir angkot nyebelin

19/09/11

Assalamualaykum.

Barusan pulang dari konsul di PG sama Mbak Eli, bareng si Pamit. Waktu perjalanan pulang, di lampu merah, pertigaan perumnas, kebetulan motorku berhenti di sebelah kiri sebuah angkot. Di dalam angkot tersebut ada sepasang suami istri yang duduk di kursi depan. Yaaa, sepertinya sih, suami istri. Ibunya itu berjilbab panjang. Sepertinya memakai gamis. Sepertinya, lho ya... Sedangkan supirnya, yang sepertinya suaminya itu, rambutnya agak gimbal, kancing baju yang bagian atas kebuka beberapa, gondrong, dan... merokok.
Karena waktu aku datang, lampunya baru pindah dari kuning ke merah, jadi aku sempat curi-curi pandang memperhatikan ibu tadi. Mukanya baik... apa, ya. Teduh... gimanaaa gitu. Nyaman aja ngelihatnya. Karena cuma sebelahan, jadi percakapan mereka juga lumayan terdengar (alias nguping).
Mereka ngomongnya medhok jawa, jadi aku masih agak mudeng dengernya. Ibu tadi ngomongnya pelan, dan sepertinya hati-hati. Sepertinya takut sama suaminya itu, deh. Soalnya suaminya itu logatnya jawa kasar. Nadanya pun kasar. Misalnya, ya... Ini pembicaraan mereka seingatku...

Si Ibu :
"Yo mbok rausah diladeni wong koyok ngono"
("Ya nggak usah diladenin orang kayak gitu")


Si Bapak :
"Halah, rausah, rausah. Kon iku ngerti opo"
 ("Halah, nggak usah, nggak usah. Kamu itu ngerti apa")


Si Ibu : 
"Yowes, ngkok awakku wae sing ngomongno ke de'e"
("Ya sudah, nanti aku aja yang ngomong ke dia")


Si Bapak : 
"Wis, tha. Kon iku nek ra ngerti opo-opo wis menengo wae"
("Sudah, lah. Kamu itu kalo nggak ngerti apa-apa, ya sudah. Diam aja")


Bapak itu ngomong dengan nada kasar dan ngebentak, sakit banget buat didengar. Lalu si ibu diam, ngalah. Antara mengalah dan takut sama si Suaminya itu. Menurutku ibu itu sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan cukup baik. Tidak menentang perkataannya, tidak mengeraskan suara kepadanya. Dan menjaga diri dengan menutup auratnya.
Seketika yang terlintas di kepalaku...

Si bapak tega banget.

Dia punya istri buat dicintai. Buat membahagiakan hidupnya. Agar ada seseorang yang selalu di sisinya. Istrinya rela menyandang predikat sebagai seorang istri dari seorang pekerja sepertinya. Istrinya tanpa beban menutup auratnya. Tapi si bapak malah begitu. Membentak, merokok pula.

Ya memang, sih. Banyak orang yang masih dengan gampangnya menyepelekan perasaan seorang wanita. Seorang wanita yang sabar, lemah lembut, selalu tersenyum, sering kali dianggap kalau mereka takut. Seenaknya tidak menghargai perasaan mereka. Apa aku salah? Sebagian dari semua wanita pasti pernah merasakannya, kan? Kadang ketika ngobrol, orang sering membentak, nyolot, ngatain, sengaja nyindir, dll. Karena mereka sudah yakin kalau mereka nggak akan mendapat balasan dari orang tersebut. Para cowok pun nggak sedikit yang ngomong ke cewek dengan suara yang nggak santai.

Yah... dangkal banget. Pikiran mereka.

Mereka pikir hati mereka kayak plastisin kali, ya? Diapa-apain aja nggak bakal rusak, malah bisa balik lagi seperti semula. Karena mungkin sebagian dari mereka tidak tahu dan tidak ingin tahu cara menghargai orang itu seperti apa. Nabi Muhammad pun mungkin hatinya tidak seperti plastisin. Beliau juga manusia. Pasti hatinya sangat sakit menerima perlakuan para kaum-kaum di sekitarnya saat itu. Tapi beliau diberi kesabaran lebih oleh Allah untuk me-manage hatinya itu. Karena beliau membawa tanggungan yang cukup berat demi menyebarkan agama kita.

"Allahumma shalli alaa syayyidinaa Muhammad"

Dari dulu aku sering dengar beberapa teman ngadu, "Aku itu nggak suka dibentak", "Aku nggak bisa dimarahin", "Aku benci kalau aku nanya, terus dijawab bete, gitu".
Padahal nggak perlu dikatakan secara lisan, semua orang juga sudah tahu. Dan semua orang pasti merasakan hal yang sama. Siapa coba, yang suka dibentak? Siapa yang suka dimarahin? Ada kah yang senang kalau kita nanya santai, dijawab sewot? Mereka berkata seperti itu untuk apa? Agar yang dengar nggak melakukan hal tersebut ke mereka. Iya, dan itu nggak salah juga, sih. Tapi kan jadinya nggak keren. Apalagi kalau mereka sampai berbuat seperti apa yang mereka omongin. Itu seribu kali lebih nggak keren lagi.

Oke, back to the main story.

Walaupun seberat apapun pekerjaannya si bapak itu tadi, yang mungkin membuatnya badmood sore itu juga, tapi apa sekosong itu kesadarannya untuk memahami perasaan si ibu tadi? Seenggaknya walaupun kesal, pelankan aja lah, suaranya. Sakit lho, dengar suara orang yang nyolot. Apalagi orang terdekat. Kalau orang lain, bisa langsung dibenci dan ilfil. Tapi kalau orang yang dicintai, apalagi suami sendiri, pasti langsung eror deh, ini kepala. Bukan kata benci yang terlintas dipikiran, tapi kecewa. Kenapa kecewa? Because it's the most painful. Yang telah memberi cinta setulus hati, malah diperlakukan seperti itu oleh yang diberi cinta itu. Hanya bisa diam dan tidak ingin menyakiti balik hatinya, dengan melawan. Karena apa? Karena tidak ingin kehilangan. Aku yang bertahun-tahun ngenes menjomblo aja bisa membayangkan bagaimana rasanya. Sakit banget, pastinya.

Di sisi lain. Dari luar aja sudah bisa dilihat, kalau si ibu tadi sudah berusaha membersihkan dirinya luar-dalam. Dengan menutup aurat, memakai jibab besar. Si suami malah dengan cueknya tidak berusaha memberishkan dirinya demi istrinya. Ini bukan masalah rambutnya yang gondrong, keriting berantakan, atau masalah kancing bajunya yang kebuka-buka bagian atasnya. Itu mah masih bisa dimaklumi. Beliau kerja dari pagi sampai sore begitu. Tapi ini masalah merokok.
Umumnya wanita tidak suka yang namanya perokok. Selain asapnya yang mengganggu dan bau perokok yang khas dan... hmm... begitulah, pastinya perokok juga membawa dampak buat orang-orang di sekitarnya (terutama pasangan dan anak-anak mereka). Dan dampak negatif dari perokok pasif itu tidak sekecil seperti orang yang ketularan sakit cacar, lho. Seperti Alm. temannya Titi Kamal yang waktu itu dia bahas di twitter, meninggal karena ayahnya yang perokok, sehingga ia yang perokok pasif, yang mau tidak mau harus menanggung akibatnya, mengidap penyakit tersebut.
Dan lagi, ibu mana yang ingin kondisi anaknya "kenapa-kenapa"? Tapi sebagian besar para istri pasti menghormati suaminya. Dan itu juga tidak salah.

Alangkah lebih baik kalau suaminya yang bisa lebih mengerti perasaan si istri.
Ya, Allah... mudahan nanti Imamku lebih baik lagi, Ya Allah... Kurang lebih seperti Bapakku, lah...
Amiiiiiin, Ya Allah (")(~_~)(")

Ninin

17/09/11

Assalamualaykum.

Brrr... Niniiin...
Brrr... jam 6 pas. Dan aku masih berani-beraninya megang laptop buat nulis post ini. Brrr... Ninin banget nih. Brrr... Hahaha...
Sumpah pagi ini dingin banget. Hujan beberapa hari berturut-tutut. Sholat Subuh aja dari kemarin sering keulang-ulang terus, gara-gara... tuuuuut~
Dari kemarin pasti kentutnya pas sudah masuk rakaat kedua. Errr -_-

Oh iya. Tadi malem kan aku motokopi Rapot, Ijazah, sama SKHU buat dikumpul ke Pak Udin sama buat ngelegalisir buat daftar ke PP BCA. Aku motokopi banyak banget. Soalnya buat jaga-jaga juga. Pas sudah selesai dirapihin sama Bapak potokopinya...

"Berapa, Pak?"

"tiga puluh"

"................."
(nggumam dalam hati: Wuaddduh mati aku, aku cuma bawa 20 ribu, lagi)

Aku nyari-nyari kata buat ngerayu Bapaknya (yang mukanya horor abis) biar bisa pulang ngambil duit, tanpa menyakiti hati beliau.

"Hmm... Pak, ini saya taroh sini dulu... saya mau ngambil uang, nanti saya balik lagi" <--- Ekspektasi

"Hmm... Pak, ini saya taroh sini..."
(belum selesai kalimatku)

"tiga puluh"

"Iya, pak... ini saya taroh sini dulu... saya mau ngambil..."

"dikali 2. enam ribu."

...

KRIK.

"Baiklah, bapak"

Pagi-pagi dibikin panik

11/09/11

Assalamualaykum.
Tanggal cantik, niyee...

Pagi-pagi jam 7-an, aku, Obi, sama Mama sudah rajin beres-beres rumah. Seharusnya memang begini. Iya, memang harus begini (padahal kudu diteriakin di telinga dulu baru bisa bangun).
Bapak ngelembur semaleman, dan waktu aku masuk ke kamarnya, beliau masih aja megang laptop, ngelanjutin kerjaan. Bapak kalau menyelesaikan apa-apa pasti selalu pagi. Jadi siangnya tinggal santai-santai di rumah. Nggak kayak aku... biasa siangnya dulu yang santai-santai, pas H-1 (maksudnya H-1 jam, alias tengah malem) baru kelabakan ngerjain tugas-tugas sekolah -__-
Padahal aku sudah sering nawarin...

"Pak... ada yang bisa kuketik, kah?"
"Nggak usah... kamu belajar aja..."

Yoweeees -_-

Mama bagian masak-masak buat sarapan sama makan malem. Aku bagian nyapu-nyapu, dari teras, ruang tamu, kamar, pokoknya seisi rumah, lah. Obi bagian ngelap-ngelap yang berdebu.
Setelah pekerjaan kita sudah pada kelar masing-masing, Mama masih di dapur, duduk sambil ngangkat-ngangkat rambut belakangnya, terus ngipas-ngipasin pakai tangannya sendiri. Mukanya penuh keringat. Mama kalau kecapean kadang-kadang keringetannya kayak habis senam SKJ di perumahan. Tapi kali ini aku panik banget.

"Haduh... nggak kuat aku, trid."
 Mama ngomong kayak gitu berulang-ulang. Aku cuma bisa ngipasin pake majalah ASIAN yang kubeli minggu lalu.

"Istirahat aja sudah, Ma..."
"Nggak kuat aku, trid. Nggak kuat."

Aku makin panik.

"Pokoknya besok aku mau potong rambut. Nggak kuat aku. Gerah betul leherku."

Lalu beliau berdiri dan berlalu begitu saja menuju kamar.

The End.